Terukir sketsa biru muda dalam sebuah fenomena pergerakan. Corak putih yang menggores samar-samar.likuk-likuk hijau ikut mengisi lukisan sebuah mimpi. Mengiringi balok coklat, lingkaran hitam, dan cahaya violet.semua berpadu dalam satu indra, yang dapat dirasa dengan hati dan menembus jiwa dalam sebuah hembusan sejuk.
Terhenti sejenak. Kubiarkan coretan ini diam. Dalam sebuah ingatan panggilan ini begitu menyapa. Ku duduk dalam kenyamanan, seolah ku telah terlepas dan bebas. Hanya ada aku dan waktu. Menuntut untuk tetap bertahan dalam jernihnya kedamaian. Ku mendengar pintanya, sebuah doa untuk semuanya..mereka..
Penyesalan itu tidak pernah ada. Karena pilihan adalah sebuah keputusan akan kemana tujuan ini. Walaupun hanya sedikit tapi begitu berarti di dalam perjalanan panjang dan alam semesta yang begitu luas. Langit dan bumipun bisa selalau bersama. Tidak ada yang mampu mengatakan TIDAK.
Dia pun bisa menangkap sebuah imajinasi yang akhirnya dia gapai dalam bentuk ril. Hanya dia yang tahu. Jujur, aku tidak tahu. Aku ingin bertanya padanya, tapi aku tahu aku tidak akan melakukannya. Karena aku tahu, dia hanya diam menjadi saksi bisu di tengah kerusakan ini. Aku bisa merasakannya karena aku begitu mudah untuk masuk ke dalam nyawanya. Dalam sebuah memori. Ku telah mampu membaca fatamorgama. Sedankan dia tidak. Dia tidak sama denganku, mungkin. Karena dia tidak bisa merasakannya. Hanya bisa menduga, yang kebenarannya nihil. Insting yang konyol.
Ini hanyalah sebuah tulisan yang mengambang. Gabungan dari dia, aku, mereka dan dulu, sekarang, mungkin juga esok. Hanya gumam selintas, maknanya dalam. Membutuhkan seluruh jagad raya hingga kau bisa menafsirkannya.
Bengkulu, 11 01 2011
By tintaku
Saya rasa, kata-katanya begitu hidup dan alami... Anda adalah sosok penulis muda di masa depan..
ReplyDeletemakasih...
ReplyDelete